YPIA

Ungkapan si Perantau

Ungkapan si Perantau
Ungkapan si Perantau
Hari ini hujan mengucur begitu derasnya. Dingin menyelimuti tubuhku yang lemah. Hampir lima jam aku berbaring di peraduan tersebab badanku menggigil. Entah mengapa aku selalu saja teringat akan hangatnya keluargaku. Bapak yang begitu bijaksana berpendapat dan penyabar, Simbok yang selalu tegar menghadapi guncangan hidup, meskipun sesekali meratap sedih. Kakakku yang cepat naik darah namun mengena jika memberi petuah. Adik pertamaku yang menyebalkan tapi begitu sigap dan berani mengambil putusan. Serta si bungsu yang manja dan ngangeni. Juga Mbok Tuwo yang telah senja namun masih bersemangat menjalani hidup. Aku sendiri sebagai anak muda malah cepat putus asa dan gampang menyerah, selalu bimbang menentukan jalan dan pendendam. Sosok yang sering dibanggakan orang tua, terutama Bapak. Dulu aku memang bangga dengan intelektualitas yang aku miliki. Namun kurasa kini tak lagi berarti. Aku juga rindu akan suasana rumahku yang asri. Tanaman yang tumbuh subur. Kali yang tak pernah kering.


Tangerang, 07 September 2007